Minggu, 03 Juni 2012

TANYA SAJA BUNDA

Seperti biasa tadi pagi Iman memakai Laptop. Dia menggunakannya untuk bermain game. Kebetulan game yang akan dimainkannya terdapat beberapa tulisan atau petunjuk  yang dia belum mengerti maksudnya. Sepertia biasa juga diapun akan menanyakan padaku.

Ketika itu  anakku yang kecil, Arif Sumarlin , mengajakku keluar rumah untuk jalan-jalan. Ku dengar Iman memanggilku.

Iman   : "Ayah, sini dulu".
Aku     : "Ada apa?" (akupun mendekatinya yang sedang menghadapi Laptop)
Iman  : "Ini maksudnya apa, yah"?. Ia menunjukkan tulisan berbahasa Inggris
             yang ada di layar monitor.

Akupun menjelaskan maksudnya agar dia mengerti. Setelah dia mengerti aku kembali keluar rumah  untuk jalan-jalan bersama anakku. Ia hampir berusia dua tahun. Setiap pagi saat aku di rumah, dia akan menarik tanganku untuk menemaninya jalan-jalan di luar rumah. Kami akan menyusuri trotoar. Lalu berjalan kearah masjid. Letak masjidnya tidak terlalu jauh dari rumah.setelah puas jalan-jalan lalu pulang. Sampai dirumah dia biasanya akan minta makan. Nasi yang dicampur kecap. Sekitar jam sepuluh pagi biasanya dia akan tidur. Bangun kira-kira jam dua belas.

Ketika aku baru akan melangkah keluar bersama si kecilku, kembali terdengar suara Iman. Kembali ia memanggilku.
"Ada apa?", aku bertanya dari halaman rumah dengan suara sedikit keras.
"Sini dulu", katanya.
"Tanya saja sama Bunda !", kataku. Walaupun aku tahu kalau istriku tidak akan tahu maksud yang ditanyakan Iman. Maksudku adalah untuk menghindar dari menjawab pertanya Iman.

"Ayah yang tau. Ayah kan yang punya Laptop?", katanya dengan cepat.

Tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolak permintaannya.
Kembali aku menjelaskan kepadanya  beberapa petunjuk yang ditanyakannya kepadaku.

Setelah dia merasa puas dan senang barulah aku lanjutkan jalan-jalanku bersama si kecilku.

Sabtu, 02 Juni 2012

PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI MANINJAU (Bagian 3)

Teman-temanku itu tinggal di Gasang Maninjau,  tidak jauh di depan rumahnya ada air pancuran tempat orang mandi, mencuci dan mengambil air. Airnya sangat jernih. Walaupun musim kemarau pancuran ini tetap mengalir, seolah tidak terpengaruh dengan musim kemarau.  Daerah sekitar Maninjau masih asli dan hutannya terjaga. Sehingga warganya juga hidup tentram dan damai. Kehidupan mereka sebagian mencari ikan yang bahasa Minangnya bada (ikan). Sebagian lagi dari mereka hidup bersawah dan berladang seperti pala, kulit manis atau cengkih.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sangat akrab dengan makanan yang bersumber dari danau itu (Danau Maninjau) yakni Pesi. Di tempat lain ada yang menamakannya Pensi, yaitu sejenis lokan atau kerang danau yang bentuknya lebih kecil daripada kerang laut. Warnanya kekuning-kuningan. Kalau dimasak dengan bumbu khas Maninjau akan terasa sangat nikmat. Pesi ini dijual oleh ibu-ibu di pekan(pasar) bahkan kita bisa membelinya setiap hari di rumahnya. Di Gasang, kampungku,  penjual pesi yang terkenal terletak di dekat Masjid Gasang yang unik. Dia menjual pesi jamua dan pesi Sup/basah. Semuanya terasa nikmat. Kelurgaku semuanya senang makan pesi dari yang tua sampai anak-anak.

Membicarakan tentang Pesi ini seolah tidak ada habisnya.
Ketika aku pergi dengan orang tuaku ke asal kampung ibuku di Panji, banyak kutemui kulit-kulit pesi bertebaran di  jalan. Panji terletak di daerah yang tinggi berbukit-bukit. Sebelum kita sampai di Panji kita akan melewati kampung Kubu Gadang. Daerahnya cukup ramai. Karena jauhnya perjalanan , kami berhenti untuk beristirahat di tempat yang cukup nyaman. Di sana banyak batu-batu besar yang bertebaran sehingga kita bisa memilih tempat yang kita suka. Di sinilah kulit-kulit pesi paling banyak kutemui. Di tempat ini kami membawa perbekalan makanan yang tidak lupa tentu saja adalah Pesi. Dari tempat kami beristirahat ini nampaklah disana Danau Maninjau yang membentang dengan airnya yang biru dan jernih. Awan putih tipis bagai kapas  bertebar di langit yang cerah. Damainya hatiku. Serasa tidak ingin aku meninggalkan engkau kampungku nan elok, Maninjau.
Ketika sampai di Kubu Gadang kami beristirahat melepas penat sambil makan cendol yang kami beli  di ujung jalan. Rasanya sungguh nikmat. Cendol yang terbuat dari tepung beras dengan kuah yang menggunakan  gula tebu (orang minang menyebutnya gulo saka) sangat luar biasa. Disantap saat panas terik.  Menikmati secangkir cendol Kubu Gadang.Pengalaman yang tidak terlupakan.

Bersambung



PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI MANINJAU (Bagian 2)


Di tepi danau Maninjau, kampung orang tuaku, aku mempunyai kesan yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan. Saat-saat bermain dengan teman-teman di tengah sawah setelah orang panen sangatlah menggembirakan. Kami pergi ke kaki bukit yang tidak terlalu jauh dari perkampungan untuk mencari buah pala dan berlomba siapa yang paling banyak mendapatkan buah pala.
Buah pala yang sudah kami peroleh lalu kami bawa pulang untuk kemudian dijemur di depan rumah. Di kampung juga terdapat banyak orang yang memiliki tanaman cengkeh. Tanaman ini tumbuh subur di kaki bukit. Kami harus melintasi pagar kawat berduri untuk mencari buah pala. Bersama temanku si Pen dan adiknya (kabarnya mereka sekarang sudah tinggal di Pulau Jawa) kami  barmain di sana. 
Kalau kita pandang dari lembah, tampak di atas bukit yang menghijau  asap tipis meliuk menjulang ke angkasa. Petani yang di sana hidup damai dan  bersahaja. Setiap hari-hari pekan mereka turun sambil membawa hasil ladang mereka. Mereka jual untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Betapa indah suasana kehidupan ini. 
Aku juga sangat terkesan dengan aroma harum cengkeh dan kulit manis. Aroma harum yang menimbulkan kekhasan dan kesan tersendiri. Mungkin karena aroma yang harum inilah orang menjadikan cengkih sebagai bahan pembuatan rokok. Terkadang sampai sekarang aku masih ingat bagaimana buah pala yang aku jemur di depan rumah sering hilang. Bermain di kaki bukit dengan teman-teman sungguh sangat  menyenangkan.

Bersambung ke Bagian 3

PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI MANINJAU (Bagian 1)


Pengalaman Tak Terlupakan Di Maninjau


Tahun 1973 kami pulang kampung. Letaknya di tepian danau Maninjau. Sebuah danau yang indah. Airnya yang bening dan pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur sepanjang pantai. Memantulkan bayangan indah di dalam air. Kami naik bis Sibualbuali. Bis yang terkenal saat itu. Selain  bis SiBual Buali  ada satu lagi bis yang masih kuingat yaitu bis APD. Dari namanya bis Sibual Buali  seperti berasal dari bahasa Batak. Sedangkan APD aku kurang mengetahui arti singkatannya. Mungkin APD adalah singkatan dari Angkutan Padang atau Angkutan Pengusaha Daerah. Nah, ketika itu jalannya belum diaspal. Masih tanah merah berbatu. Perjalanan  satu minggu. Sebuah perjalanan yang cukup lama. Walaupun demikian aku merasa senang.
Ketika itu aku masih di Taman Kanak-kanak. 
Aku masih ingat antrian  bis yang panjang. Bis yang berada didepan kami terjebak masuk  lumpur. Jalan rusak karena  hujan. Akibatnya bis bergerak lambat dan hati-hati. Bahaya mengancam karena di kiri kanan jalan terdapat jurang-jurang menganga. Kulihat banyak traktor dan excavator berjaga-jaga di beberapa tempat.Alat-alat ini siap membantu mobil-mobil yang terjebak dalam lumpur.  Bis  yang terjebak tersebut akan di tarik atau diderek agar bisa keluar dari jeratan lubang lumpur. Aku saksikan orang  mendorong mobil. Kemacetan yang diakibatkan oleh kondisi jalan yang buruk ini masih sering terbayang di pelupuk mata. Para penumpang  turun dari bis kalau jalan sudah macet. Suasana jadi ramai karena. Di belakang kami  bis-bis yang sehaluan dengan kami terpaksa ikut juga berhenti. Para penumpang banyak yang turun dari bis karena udara di dalamnya terasa panas..

Kenangan lain adalah waktu mau menyeberang sungai. Jembatan belum begitu banyak. Waktu itu menyeberang masih menggunakan rakit. Rakit ini terbuat dari susunan drum yang disusun diatasnya beberapa buah papan sebagai lantai. Rakit itu akan menyeberangkan para penumpang terlebih dahulu. Setelah itu baru menyeberangkan bis. Rakit tidak akan kuat kalau harus menyeberangkan mobil beserta para penumpangnya secara bersamaan. Rakit tersebut digerakkan dengan menarik tali yang terbentang di antara dua bibir sungai. Setelah bis sampai diseberang dan mendarat kami para penumpang bergegas naik bis kembali untuk melanjutkan perjalanan. Ketika itu umumnya bis penuh dengan penumpang yang akan pergi ke Padang. 
Perjalanan itu membawa kegembiraan hatiku. Karena itu adalah pengalaman pertama sehingga rugi bila kulewatkan begitu saja. Aku berusaha menahan kantukku hanya karena ingin  menyaksikan  pemandangan-pemandangan indah dalam perjalanan. Karena terlalu sering  memperhatikan tempat-tempat yang dilalui bis yang kami tumpangi mataku seperti berubah lucu. Apapun yang kusaksikan dari jendela bis semua tampak berubah. 
Di tepi danau Maninjau, kampung orang tuaku, aku mempunyai kesan yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan.  Bersambung ke bagian 2

Jumat, 01 Juni 2012

Panas

Iman sudah main game cukup lama di laptop. Karena khawatir terjadi over heat atau terlalu panas aku suruh Iman untuk mematikan Laptop. Karena aku juga ingin memakai laptop. Maka kukatakan kepadanya: "Iman, ayo matikan dulu laptop, sudah terlalu panas".
Iman lalu maraba  laptop untuk mengetahui apakah laptop benar-benar sudah  panas atau tidak. Sepertinya dia tidak percaya dengan omonganku. Setelah dirabanya dan dirasakan memang sudah panas akhirnya dia mau mematikan laptop.

Tidak lama setelah laptop mati akupun diam-diam menghidupkan laptop. Sementara Iman asyik bermain HP karena di dalam HP juga tersimpan beberapa game.

Ketika dilihatnya aku sudah mulai menghidupkan laptop, Iman langsung saja berkata: "Ayah, laptopnya masih panas. Jangan dipakai dulu.Akupun cari-cari alasan sambil berkata:"Nggak, ini sudah mulai dingin.

"Ayah, pinjam Laptopnya!, Iman berteriak.
"Jangan main laptop terus, nanti mata bisa rusak. Nggak bisa melihat".
"Itu ayah sering main laptop", katanya protes.
"Ya, ayah kan sudah dewasa, kataku. entah dia mengerti apa tidak sama sekali.
Aih, Ayah ini, katanya dengan nada protes.

Tapi akupun tidak lama memakai laptop karena Imanpun terus mrenerus mendesak ingin minjam laptop. Sekarang giliran Imaan yang mengambil alih laptop.