Pengalaman Tak Terlupakan Di Maninjau
Tahun 1973 kami pulang kampung. Letaknya di tepian danau Maninjau. Sebuah danau yang indah. Airnya yang bening dan pohon-pohon kelapa yang tumbuh subur sepanjang pantai. Memantulkan bayangan indah di dalam air. Kami
naik bis Sibualbuali. Bis yang terkenal saat itu. Selain bis SiBual Buali ada satu lagi bis yang masih kuingat yaitu bis APD. Dari namanya bis Sibual Buali seperti berasal dari bahasa Batak. Sedangkan APD aku kurang mengetahui arti singkatannya. Mungkin APD adalah singkatan dari Angkutan Padang atau Angkutan Pengusaha Daerah. Nah, ketika itu jalannya belum diaspal. Masih tanah
merah berbatu. Perjalanan satu minggu. Sebuah perjalanan yang cukup lama. Walaupun demikian aku merasa senang.
Ketika itu
aku masih di Taman Kanak-kanak.
Aku masih
ingat antrian bis yang panjang. Bis yang berada didepan
kami terjebak masuk lumpur. Jalan rusak karena hujan. Akibatnya bis bergerak
lambat dan hati-hati. Bahaya mengancam karena di kiri kanan jalan terdapat jurang-jurang menganga. Kulihat
banyak traktor dan excavator berjaga-jaga di beberapa tempat.Alat-alat ini siap membantu mobil-mobil yang terjebak dalam lumpur. Bis yang terjebak tersebut akan di
tarik atau diderek agar bisa keluar dari jeratan lubang lumpur. Aku saksikan orang mendorong mobil. Kemacetan yang diakibatkan
oleh kondisi jalan yang buruk ini masih sering terbayang di pelupuk mata. Para
penumpang turun dari bis kalau jalan sudah macet. Suasana jadi ramai karena. Di
belakang kami bis-bis yang sehaluan dengan kami terpaksa ikut juga
berhenti. Para penumpang banyak yang turun dari bis karena udara di dalamnya terasa panas..
Kenangan lain adalah waktu mau menyeberang sungai. Jembatan belum begitu banyak. Waktu itu menyeberang masih menggunakan rakit. Rakit ini terbuat dari susunan drum yang disusun diatasnya beberapa buah papan sebagai lantai. Rakit itu akan menyeberangkan para penumpang terlebih dahulu. Setelah itu baru menyeberangkan bis. Rakit tidak akan kuat kalau harus menyeberangkan mobil beserta para penumpangnya secara bersamaan. Rakit tersebut digerakkan dengan menarik tali yang terbentang di antara dua bibir sungai. Setelah bis sampai diseberang dan mendarat kami para penumpang bergegas naik bis kembali untuk melanjutkan perjalanan. Ketika itu umumnya bis penuh dengan penumpang yang akan pergi ke Padang.
Kenangan lain adalah waktu mau menyeberang sungai. Jembatan belum begitu banyak. Waktu itu menyeberang masih menggunakan rakit. Rakit ini terbuat dari susunan drum yang disusun diatasnya beberapa buah papan sebagai lantai. Rakit itu akan menyeberangkan para penumpang terlebih dahulu. Setelah itu baru menyeberangkan bis. Rakit tidak akan kuat kalau harus menyeberangkan mobil beserta para penumpangnya secara bersamaan. Rakit tersebut digerakkan dengan menarik tali yang terbentang di antara dua bibir sungai. Setelah bis sampai diseberang dan mendarat kami para penumpang bergegas naik bis kembali untuk melanjutkan perjalanan. Ketika itu umumnya bis penuh dengan penumpang yang akan pergi ke Padang.
Perjalanan itu membawa kegembiraan hatiku.
Karena itu adalah pengalaman pertama sehingga rugi bila kulewatkan begitu
saja. Aku berusaha menahan kantukku hanya karena ingin menyaksikan
pemandangan-pemandangan indah dalam perjalanan. Karena terlalu sering memperhatikan tempat-tempat yang dilalui bis
yang kami tumpangi mataku seperti berubah lucu. Apapun yang kusaksikan dari
jendela bis semua tampak berubah.
Di
tepi danau Maninjau, kampung orang tuaku, aku mempunyai kesan yang sampai
sekarang tidak bisa kulupakan. Bersambung ke bagian 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar