Di tepi danau
Maninjau, kampung orang tuaku, aku mempunyai kesan yang sampai sekarang tidak
bisa kulupakan. Saat-saat bermain dengan teman-teman di tengah sawah setelah
orang panen sangatlah menggembirakan. Kami pergi ke kaki bukit
yang tidak terlalu jauh dari perkampungan untuk mencari buah pala dan berlomba siapa yang paling banyak mendapatkan buah pala.
Buah pala yang
sudah kami peroleh lalu kami bawa pulang untuk kemudian dijemur di depan rumah.
Di kampung juga terdapat banyak orang yang memiliki tanaman cengkeh. Tanaman ini
tumbuh subur di kaki bukit. Kami harus melintasi pagar
kawat berduri untuk mencari buah pala. Bersama temanku si Pen dan adiknya
(kabarnya mereka sekarang sudah tinggal di Pulau Jawa) kami barmain di sana.
Kalau kita
pandang dari lembah, tampak di atas bukit yang menghijau asap tipis meliuk menjulang ke angkasa. Petani
yang di sana hidup damai dan bersahaja. Setiap
hari-hari pekan mereka turun sambil membawa hasil ladang mereka. Mereka jual
untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Betapa indah suasana kehidupan ini.
Aku juga sangat
terkesan dengan aroma harum cengkeh dan kulit manis. Aroma harum yang menimbulkan kekhasan
dan kesan tersendiri. Mungkin karena aroma yang harum inilah
orang menjadikan cengkih sebagai bahan pembuatan rokok. Terkadang sampai
sekarang aku masih ingat bagaimana buah pala yang aku jemur di depan rumah
sering hilang. Bermain di kaki bukit dengan teman-teman sungguh sangat menyenangkan.
Bersambung ke Bagian 3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar