Sabtu, 02 Juni 2012

PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI MANINJAU (Bagian 3)

Teman-temanku itu tinggal di Gasang Maninjau,  tidak jauh di depan rumahnya ada air pancuran tempat orang mandi, mencuci dan mengambil air. Airnya sangat jernih. Walaupun musim kemarau pancuran ini tetap mengalir, seolah tidak terpengaruh dengan musim kemarau.  Daerah sekitar Maninjau masih asli dan hutannya terjaga. Sehingga warganya juga hidup tentram dan damai. Kehidupan mereka sebagian mencari ikan yang bahasa Minangnya bada (ikan). Sebagian lagi dari mereka hidup bersawah dan berladang seperti pala, kulit manis atau cengkih.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sangat akrab dengan makanan yang bersumber dari danau itu (Danau Maninjau) yakni Pesi. Di tempat lain ada yang menamakannya Pensi, yaitu sejenis lokan atau kerang danau yang bentuknya lebih kecil daripada kerang laut. Warnanya kekuning-kuningan. Kalau dimasak dengan bumbu khas Maninjau akan terasa sangat nikmat. Pesi ini dijual oleh ibu-ibu di pekan(pasar) bahkan kita bisa membelinya setiap hari di rumahnya. Di Gasang, kampungku,  penjual pesi yang terkenal terletak di dekat Masjid Gasang yang unik. Dia menjual pesi jamua dan pesi Sup/basah. Semuanya terasa nikmat. Kelurgaku semuanya senang makan pesi dari yang tua sampai anak-anak.

Membicarakan tentang Pesi ini seolah tidak ada habisnya.
Ketika aku pergi dengan orang tuaku ke asal kampung ibuku di Panji, banyak kutemui kulit-kulit pesi bertebaran di  jalan. Panji terletak di daerah yang tinggi berbukit-bukit. Sebelum kita sampai di Panji kita akan melewati kampung Kubu Gadang. Daerahnya cukup ramai. Karena jauhnya perjalanan , kami berhenti untuk beristirahat di tempat yang cukup nyaman. Di sana banyak batu-batu besar yang bertebaran sehingga kita bisa memilih tempat yang kita suka. Di sinilah kulit-kulit pesi paling banyak kutemui. Di tempat ini kami membawa perbekalan makanan yang tidak lupa tentu saja adalah Pesi. Dari tempat kami beristirahat ini nampaklah disana Danau Maninjau yang membentang dengan airnya yang biru dan jernih. Awan putih tipis bagai kapas  bertebar di langit yang cerah. Damainya hatiku. Serasa tidak ingin aku meninggalkan engkau kampungku nan elok, Maninjau.
Ketika sampai di Kubu Gadang kami beristirahat melepas penat sambil makan cendol yang kami beli  di ujung jalan. Rasanya sungguh nikmat. Cendol yang terbuat dari tepung beras dengan kuah yang menggunakan  gula tebu (orang minang menyebutnya gulo saka) sangat luar biasa. Disantap saat panas terik.  Menikmati secangkir cendol Kubu Gadang.Pengalaman yang tidak terlupakan.

Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar