Dalam
kehidupan sehari-hari, mereka sangat akrab dengan makanan yang bersumber dari
danau itu (Danau Maninjau) yakni Pesi. Di tempat lain ada yang menamakannya
Pensi, yaitu sejenis lokan atau kerang danau yang bentuknya lebih kecil
daripada kerang laut. Warnanya kekuning-kuningan. Kalau dimasak dengan bumbu
khas Maninjau akan terasa sangat nikmat. Pesi ini dijual oleh ibu-ibu di pekan(pasar)
bahkan kita bisa membelinya setiap hari di rumahnya. Di Gasang, kampungku, penjual pesi yang terkenal terletak di dekat
Masjid Gasang yang unik. Dia menjual pesi jamua dan pesi Sup/basah. Semuanya
terasa nikmat. Kelurgaku semuanya senang makan pesi dari yang tua sampai anak-anak.
Membicarakan
tentang Pesi ini seolah tidak ada habisnya.
Ketika aku
pergi dengan orang tuaku ke asal kampung ibuku di Panji, banyak kutemui kulit-kulit
pesi bertebaran di jalan. Panji terletak
di daerah yang tinggi berbukit-bukit. Sebelum kita sampai di Panji kita akan
melewati kampung Kubu Gadang. Daerahnya cukup ramai. Karena jauhnya perjalanan ,
kami berhenti untuk beristirahat di tempat yang cukup nyaman. Di sana banyak
batu-batu besar yang bertebaran sehingga kita bisa memilih tempat yang kita
suka. Di sinilah kulit-kulit pesi paling banyak kutemui. Di tempat ini kami
membawa perbekalan makanan yang tidak lupa tentu saja adalah Pesi. Dari tempat kami
beristirahat ini nampaklah disana Danau Maninjau yang membentang dengan airnya
yang biru dan jernih. Awan putih tipis bagai kapas bertebar di langit yang cerah. Damainya
hatiku. Serasa tidak ingin aku meninggalkan engkau kampungku nan elok,
Maninjau.
Ketika sampai
di Kubu Gadang kami beristirahat melepas penat sambil makan cendol yang kami
beli di ujung jalan. Rasanya sungguh nikmat. Cendol yang terbuat dari tepung beras dengan kuah yang menggunakan gula tebu (orang minang menyebutnya gulo saka) sangat
luar biasa. Disantap saat panas terik. Menikmati secangkir cendol Kubu Gadang.Pengalaman yang tidak terlupakan.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar